bersama YABC. Provinsi Jawa Tengah
Gembiroloko white flower
Bunga liar
Aurora Borealis
Rabu, 27 November 2013
Selasa, 26 November 2013
Materi kelas XII SMA Pola Keruangan Kota
BAB VI.
POLA KERUANGAN DESA DAN KOTA
Desa dan kota merupakan wilayah
yang memiliki struktur berbeda yang ditunjukkan oleh pola keruangannya. Ada berbagai tipe desa
dan kota yang
diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu. Desa memiliki potensi fisik dan
nonfisik. Potensi fisik meliputi
lahan, air, iklim, flora, dan fauna. Sedangkan potensi nonfisik antara lain penduduk desa, lembaga dan organisasi sosial,
serta aparat atau pamong desa. Hubungan atau interaksi desa-kota merupakan
hubungan saling memengaruhi dan melengkapi dua wilayah. Akibat interaksi
tersebut dapat menimbulkan dampak positif dan negatif bagi daerah perdesaan
maupun daerah perkotaan.
A. Desa
1. Pengertian
a. Desa merupakan perwujudan atau kesatuan
geografi, sosial, ekonomi, politik, serta kultural yang terdapat di suatu
daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. (Bintarto).
b. Desa sebagai suatu wilayah yang penduduknya
kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1) mempunyai pergaulan hidup yang saling
mengenal,
2) adanya ikatan perasaan yang sama tentang
kebiasaan, serta
3) cara berusaha bersifat agraris dan sangat
dipengaruhi oleh
faktor-faktor
alam, seperti iklim, topografi, serta sumber daya alam. (Paul H. Landis)
c. Desa
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul serta adat
istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di
daerah kabupaten. (Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, bab I, pasal 1).
2. Klasifikasi Desa
a. Berdasarkan
Mata Pencaharan,
berdasarkan
desa dapat dikelompokkan ke dalam desa nelayan, desa pertanian, desa kerajian,
desa peternakan, desa pariwisata dan lain-lain.
b. Berdasarkan Perkembangan Masyarakat
1) desa
tradisional, adalah desa tertingal yang terisolir dan masih tergantung
dengan alam
2) swadaya, adalah desa dengan kehidupan
penduduknya yang sudah mulai menetap dan masih memiliki ikatan yang kuat
terhadap adat istiadat. Pada desa ini sebagian besar penduduknya berpendidikan
rendah dan mata pencahariannya sebagai petani yang hasilnya digunakan untuk
memenuhi kebutuhan sendiri.
3) swakarya, adalah desa yang masyarakatnya
dalam masa transisi dan pengaruh dari luar mulai masuk. Mata pencaharian
penduduknya mulai bervariasi dan roda pemerintah sudah mulai berkembang baik.
Bantuan dari pemerintah merupakan perangsang untuk pembangunan di desa.
4) swasembada, adalah desa yang
Masyarakatnya memiliki mata pencaharian yang beraneka ragam di bidang
perdagangan dan jasa, serta memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sehingga
pola pikirnya lebih maju
3. Potensi Desa
dan Kaitannya dengan Perkembangan Desa-Kota
Menurut Bintarto, desa
memiliki tiga unsur utama yang meliputi :
a) daerah (wilayah)
b) penduduk, dan
c) tata kehidupan.
Ketiga unsur tersebut
merupakan satu kesatuan hidup (living unit). Kemajuan desa dipengaruhi
oleh unsur-unsur tersebut terutama yang berkaitan dengan faktor usaha manusia (human
efforts) dan tata geografi (geographical setting).
Fungsi Desa
Desa
memiliki fungsi penting bagi perkembangan daerah sekitarnya. Fungsi desa
sebagai berikut.
a. Dalam interaksi desa-kota, desa
berfungsi sebagai daerah dukung (hinterland) atau daerah penyuplai
bahan
makanan pokok, seperti padi, jagung, ketela, kacang, kedelai, buah-buahan, sayur-sayuran, dan daging hewan.
b. Dari
sisi potensi ekonomi,desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw
material) dan tenaga kerja (man power) ditinjau
c. Dari
sisi kegiatan kerja (occupation), desa dapat berfungsi sebagai desa
agraris, desa manufaktur, desa industri, dan desa nelayan.
Potensi Desa
|
Potensi fisik
|
Potensi non fisik
|
|
a. lahan
|
a. Penduduk desa
|
|
b. air
|
b. Lembaga dan organisasi social
|
|
c. iklim
|
c. Aparatur dan pamong desa
|
|
d. flora dan fauna
|
|
Keadaan dan tata
kehidupan penduduk desa memengaruhi karakteristik dan tingkat kemajuan desa.
Sebutan desa tradisional, desa swadaya, desa swakarya (sedang berkembang), dan
desa swasembada (maju) menunjukkan tingkat kemajuan desa.
Faktor-faktor yang menentukan kemajuan desa sebagai
berikut :
a.
Potensi Desa
b.
Interaksi dengan Daerah Lain
c.
Lokasi Desa
Apakah modernisasi desa
menjadi tujuan dari pembangunan desa? Untuk menjawabnya, ada baiknya kamu perlu
mengetahui tujuan pembangunan desa sebagai berikut.
a. Menempatkan penduduk desa
dalam kedudukan yang sama dengan
penduduk kota .
Artinya, tidak ada perbedaan status antara penduduk desa dengan penduduk kota .
b. Mengusahakan peningkatan kehidupan penduduk desa yang sejahtera
atas dasar keadilan dan rasional.
c. Meningkatkan kreativitas penduduk desa dalam
menghadapi masalah dan kesulitan hidup.
B. Kota
1. Pengertian
Kota
a. Kota
sebagai kesatuan jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan
penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen
serta coraknya materialistis. Masyarakat kota
terdiri atas penduduk asli daerah tersebut dan pendatang. Masyarakat kota merupakan suatu
masyarakat yang heterogen, baik dalam hal mata pencaharian, agama, adat, dan
kebudayaan. (Bintarto).
b. Disebutkan kota adalah pusat permukiman dan kegiatan
penduduk yang mempunyai batasan administrasi yang diatur dalam
perundang-undangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri
kehidupan perkotaan. (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987,
pasal 1)
Ciri-ciri kota menurut Bintarto :
|
Ciri Fisik
|
Ciri Sosial
|
|
1) Sarana perekonomian seperti pasar atau
supermarket.
|
1) Masyarakatnya heterogen.
|
|
2) Tempat parkir yang
memadai.
|
2) Bersifat individualistis dan materialistis.
|
|
3) Tempat rekreasi dan
olahraga.
|
3) Mata pencaharian nonagraris.
|
|
4) Alun-alun.
|
4) Corak kehidupannya bersifat gesselschaft (hubungan
kekerabatan mulai pudar).
|
|
5) Gedung-gedung
pemerintahan.
|
5) Terjadi kesenjangan sosial antara golongan
masyarakat kaya dan masyarakat miskin.
|
|
|
6) Norma-norma agama tidak begitu ketat.
|
|
|
7) Pandangan hidup lebih rasional.
|
|
|
8) Menerapkan strategi keruangan, yaitu pemisahan
kompleks atau kelompok sosial masyarakat secara tegas.
|
2. Klasifikasi Kota
a. Berdasarkan
jumlah penduduk, kota
diklasifikasikan sebagai berikut.
1)
Megapolitan, yaitu kota yang berpenduduk di
atas 5 juta orang.
2) Metropolitan (kota raya), yaitu kota yang berpenduduk
antara 1–5 juta orang.
3) Kota
besar, yaitu kota
yang berpenduduk antara 500.000– 1 juta orang.
4)
Kota
sedang, yaitu kota
yang jumlah penduduknya antara 100.000–500.000 orang.
5)
Kota
kecil, yaitu kota
yang berpenduduk antara 20.000–100.000 orang.
b. Berdasarkan tingkat
perkembangannya, kota
diklasifikasikan menjadi:
1) Tingkat Eopolis, yaitu
suatu wilayah yang berkembang menjadi kota
baru.
2) Tingkat Polis, yaitu
suatu kota yang
masih memiliki sifat agraris.
3) Tingkat Metropolis,
yaitu kota
besar yang perekonomiannya sudah mengarah ke industri.
4) Tingkat Megalopolis,
yaitu wilayah perkotaan yang terdiri atas beberapa kota metropolis yang berdekatan lokasinya
sehingga membentuk jalur perkotaan yang sangat besar.
5) Tingkat Tryanopolis,
yaitu kota yang
kehidupannya sudah dipenuhi dengan kerawanan sosial, seperti kemacetan lalu
lintas dan tingkat kriminalitas yang tinggi.
6) Tingkat Nekropolis,
yaitu suatu kota
yang berkembang menuju keruntuhan.
c. Berdasarkan fungsinya, kota diklasifikasikan sebagai berikut.
a) Kota
pusat produksi, yaitu kota
yang memiliki fungsi sebagai pusat produksi atau pemasok, baik yang berupa
bahan mentah, barang setengah jadi, maupun barang jadi. Contoh: Surabaya , Gresik, dan
Bontang.
b) Kota
pusat perdagangan (Centre of Trade and Commerce), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat
perdagangan, baik untuk domestik maupun internasional. Contoh: Hongkong,
c) Kota
pusat pemerintahan (Political Capital), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat
pemerintahan atau sebagai ibu kota
negara.
d) Kota
pusat kebudayaan (Cultural Centre), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat
kebudayaan. Contoh: Yogyakarta dan Surakarta .
C. Struktur Ruang Desa dan Kota
1. Struktur
Desa
Struktur desa di suatu
daerah dengan daerah lain tidak sama. Perbedaan struktur desa dipengaruhi oleh
beberapa faktor sebagai berikut :
a. Sumber
Daya Air d. Iklim
b. Kesuburan
Tanah e. Kegiatan Penduduk
c. Topografi f. Budaya
Pola keruangan desa
umumnya sederhana. Desa yang telah berkembang memiliki pola keruangan yang
lebih kompleks. Pada desa yang telah berkembang terdapat perusahaan pengolah
sumber daya alam, sarana pendidikan, tempat ibadah, dan pasar. Pola keruangan
desa yang lebih kompleks ini dipengaruhi oleh faktor spasial, sumber daya alam,
dan sumber daya manusia.
Pola permukiman desa dapat dibedakan menjadi tiga
sebagai berikut.
a. Pola Permukiman Tersebar

Pola ini terbentuk dari
rumah-rumah penduduk yang dibangun bebas dan tersebar pada wilayah yang luas.
Pola permukiman ini umumnya terdapat di dataran rendah. Arah pemekaran
permukiman dapat ke segala jurusan. Pusat kegiatan dan fasilitas dapat dibangun
tersebar sesuai dengan kebutuhan
b. Pola Permukiman
Menjalur

Pola ini terbentuk di lokasi sepanjang jalur utama
seperti jalan, sungai, dan pantai
c. Pola Permukiman Mengelompok
Pola ini terbentuk karena terjadi pengelompokan rumah pada wilayah
terpadu yang biasanya berupa titik pertemuan atau persimpangan jalur
transportasi. Pola permukiman mengelompok dapat juga berkembang di daerah
pegunungan. Penduduk desa di daerah pegunungan umumnya masih memiliki hubungan
keluarga.
2. Struktur
Kota
Struktur kota dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu struktur ekonomi kota dan struktur intern kota .
Struktur ekonomi kota
berkaitan dengan kegiatan ekonomi penduduk kota , sedang struktur intern kota berkaitan dengan struktur bangunan dan
demografis.
a. Struktur Ekonomi Kota
1) Kegiatan Ekonomi Dasar, meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa
untuk keperluan luar kota
atau dikirim ke daerah sekitar kota .
2) Kegiatan
Ekonomi Bukan Dasar, Kegiatan ini meliputi pembuatan dan penyaluran
barang dan jasa untuk keperluan sendiri. Kegiatan ini disebut juga dengan
kegiatan residensial dan kegiatan pelayanan.
b. Struktur Intern Kota
Pertumbuhan
kota-kota di dunia termasuk di Indonesia
cukup pesat. Pertumbuhan suatu kota
dapat disebabkan oleh pertambahan penduduk kota , urbanisasi, dan kemajuan teknologi yang
membantu kehidupan penduduk di kota .
Wilayah kota
atau urban bersifat heterogen ditinjau dari aspek struktur bangunan dan
demografis. Susunan, bentuk, ketinggian, fungsi, dan usia bangunan
berbeda-beda. Mata pencaharian, status sosial, suku bangsa, budaya, dan
kepadatan penduduk juga bermacam-macam.
Teori tentang struktur kota
1) Teori Konsentris / Concentric Theory (Oleh
: Ernest W. Burgess)
Kota-kota mengalami
perkembangan atau pemekaran dimulai dari pusatnya, kemudian seiring pertambahan
penduduk kota
meluas ke daerah pinggiran atau menjauhi pusat. Zona-zona baru yang timbul
berbentuk konsentris dengan struktur bergelang atau melingkar.

Keterangan:
Zona 1 : Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central
Business District (CBD).
Zona 2 : Peralihan, (zona perdagangan beralih ke
permukiman).
Zona 3 : Permukiman kelas pekerja atau buruh.
Zona 4 : Permukiman kelas menengah.
Zona 5 : Penglaju, (zona permukiman beralih ke zona
pertanian).
2) Teori
Sektoral /Sector Theory (Oleh : Homer Hoyt)
proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan
sector-sektor daripada sistem gelang atau melingkar sebagaimana yang
dikemukakan dalam teori Burgess. Ia berpendapat bahwa pengelompokan penggunaan
lahan kota
menjulur seperti irisan kue tar.
Keterangan:
Zona 1 : Daerah Pusat
Kegiatan (DPK) atau Central Business District (CBD)
Zona 2 : Daerah grosir dan
manufaktur.
Zona 3 : Permukiman kelas
rendah.
Zona 4 : Permukiman kelas menengah.
Zona
5 : Permukiman kelas atas.
3) Teori Inti Ganda / Multiple Nucleus Theory (Oleh : Harris dan Ullman)
Meskipun pola
konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota , kenyataannya lebih kompleks dari apa
yang dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt. Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi
bentuk yang kompleks. Bentuk yang kompleks ini disebabkan oleh munculnya
nukleus-nukleus baru yang berfungsi sebagai kutub pertumbuhan.
Keterangan:
Zona 1: Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central
Business District (CBD)
Zona 2: Daerah grosir dan manufaktur.
Zona 3: Daerah permukiman kelas rendah.
Zona 4: Permukiman kelas menengah.
Zona 5: Permukiman kelas tinggi.
Zona 6: Daerah manufaktur berat.
Zona 7: Daerah di luar PDK.
Zona 8: Permukiman suburban.
Zona 9: Daerah industri
suburban.
4) Teori Konsektoral / Tipe Eropa (oleh : Peter
Mann)
Teori ini mencoba
menggabungkan teori konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris lebih
ditonjolkan.

Keterangan:
Zona 1 : Pusat kota
(city centre).
Zona 2 : Zona peralihan
Zona 3 : Sektor C dan D: zona rumah kecil.
Sektor B : zona rumah-rumah
lebih besar.
Sektor A: zona rumah-rumah
tua yang besar.
Zona 4 :
Permukiman dan perkembangannya ke pinggiran.
Zona
5 : Desa-desa yang dihuni para penglaju:
A. Sektor kelas menengah.
B. Sektor kelas menengah ke bawah.
C. Sektor kelas pekerja.
D. Sektor industri dan pekerja kelas terbawah.
5) Teori
Konsektoral / Tipe Amerika Latin (Oleh : Ernest Griffin dan Larry
Ford)

Keterangan:
Zona 1 : Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central
Business District
(CBD).
Zona 2 : Daerah perdagangan atau industri.
Zona 3 : Sektor permukiman kelas elite.
Zona 4 : Permukiman yang lanjut perkembangannya (zone
of
maturity).
Zona 5 : Daerah berkembang secara setempat (zone of
insitu
accretion).
Zona 6 : Permukiman liar (zone of peripheral squatter
settlements).
6) Teori
Poros (Oleh : Babcock)
Teori ini menekankan pada peranan
transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota .
Keterangan:
Zona 1 : Daerah Pusat
Kegiatan (DPK) atau Central Business
District (CBD).
Zona 2 : Zona peralihan
Zona 3 : Perumahan dengan pendapatan rendah atau
kelas
menengah ke bawah.
Zona 4 : Perumahan dengan pendapatan menengah.
==== : Jalan utama
------ : Rel kereta api.
7)
Teori Historis (Oleh : Alonso)
Teori ini mendasarkan
analisisnya pada kenyataan historis yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal
penduduk di dalam
Keterangan:
Zona 1 : Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central
Business District
(CBD).
Zona 2 : Daerah peralihan (zone of transition).
Zona 3 : Daerah kelas rendah (zone of low status).
Zona 4 : Daerah kelas menengah (zone of middle
status).
Zona 5 : Daerah kelas tinggi (zone of high status).
D. Interaksi Wilayah Desa dan Kota
Wilayah desa dan
wilayah kota
tidak statis. Artinya, kedua wilayah ini mengalami perkembangan dan saling
berinteraksi.
1. Faktor yang
Memengaruhi Interaksi Wilayah Desa dan Kota
Menurut Ullman, ada tiga unsur yang memengaruhi interaksi keruangan,
yaitu:
a. Adanya Komplementaritas (saling melengkapi)
b. Adanya Transferabilitas, yaitu
proses perpindahan manusia dan
barang memerlukan biaya dan waktu.
c. Adanya Intervening Opportunity ,
adalah peristiwa-peristiwa yang
tidak terduga, misalnya bencana
alam, wabah penyakit, dan peristiwa lainnya dapat mengganggu gerak
migrasi, transportasi, dan komunikasi
2. Zona
Interaksi

Keterangan:
1. City : kota
2. Suburban : Subdaerah perkotaan.
3. Suburban Fringe : Jalur tepi subdaerah perkotaan.
4. Urban Fringe : Jalur tepi daerah perkotaan paling
luar.
5. Rural urban fringe : jalur batas desa kota .
6. Rural : perdesaan
3. Menghitung Kekuatan Interaksi antara Dua
Wilayah
a. Rumus
Carrothers
Keterangan:
I : Interaksi
P1 : Jumlah penduduk salah
satu dari dua kota .
P2 : Jumlah penduduk dari kota yang lain.
J : Jarak antara dua kota .
b.
Hukum Gravitasi
Keterangan:
IA.B : interaksi wilayah pertumbuhan A dan B.
PA : jumlah penduduk wilayah pertumbuhan A.
PB : jumlah penduduk wilayah pertumbuhan B.
DA.B : jarak antara wilayah pertumbuhan A dan kota B.
Senin, 25 November 2013
Materi Narkoba Untuk MOS SMA
Untuk melihat ..silakan klik tautan dibawah ini..
http://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=u1mgte92
http://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=u1mgte92
Artikel Ilmiah Dana Hibah Global Warming
Artikel Ilmiah Dana Hibah Contoh. untuk melihat silakan klik tautan berikut ini
http://www.4shared.com/file/XnvnK-OR/ARTIKEL_ILMIAH_dana_Hibah.html?
Minggu, 24 November 2013
Sabtu, 23 November 2013
Soal-soal UAS Geografi kelas X 2013 contoh
Untuk mengakses soal-soal ini silakan klik tautan berikut ini.
FORUM GROUP DISCUSSION "FGD"
FORUM GROUP DISCUSSION
Budi Santoso
Sebagai alat
penelitian, FGD dapat digunakan sebagai metode primer maupun sekunder. FGD
berfungsi sebagai metode primer jika digunakan sebagai satu-satunya metode
penelitian atau metode utama (selain metode lainnya) pengumpulan data dalam
suatu penelitian. FGD sebagai metode penelitian sekunder umumnya digunakan
untuk melengkapi riset yang bersifat kuantitatif dan atau sebagai salah satu
teknik triangulasi. Dalam kaitan ini, baik berkedudukan sebagai metode primer
atau sekunder, data yang diperoleh dari FGD adalah data kualitatif.
Kamis, 14 November 2013
Modul perubahan Iklim Global
Untuk melihat modul perubahan iklim " climate change" silakan klik tautan berikut ini !
http://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=u1mgte92
http://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=u1mgte92
PRADISI PANGUR
Untuk membuka tradisi pangur silakan klik ling ini !
http://www.4shared.com/office/Ltlt2RDa/tradisi_pangur.html?
http://www.4shared.com/office/Ltlt2RDa/tradisi_pangur.html?
Tradisi Pangur ( semakin langka)
untuk membuka tradisi pangur silakan ling Berikut ini !
http://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=u1mgte92
Rabu, 13 November 2013
Kajian Bencana Lapindo Brantas 5W 1H
MATA KULIAH PERSPEKTIF GEOGRAFI
KAJIAN FENOMENA GEOSFER LUMPUR LAPINDO
DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. DEWI
LIESNOOR, M.Si
Disusun oleh Budi Santoso
NIM. 0309015022
Perangkat Geografi SMA kelas X kurikulum 2013
Untuk mendouwnload "Perangkat Geografi SMA kelas X kurikulum 2013" silakan ikuti link di bawah ini. jangan lupa memberi komentar !
link download 1
link download 2
link download 1
link download 2
PENGEMBANGAN MATERI GEOGRAFI INTEGRASI PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING) DENGAN METODE PROBLEM- BASED LEARNING PADA KELAS XI DI SMA N 1 UNGARAN KABUPATEN SEMARANG
PENGEMBANGAN MATERI GEOGRAFI INTEGRASI PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING) DENGAN METODE PROBLEM- BASED LEARNING PADA
KELAS XI DI SMA N 1 UNGARAN KABUPATEN
SEMARANG
Langganan:
Postingan (Atom)

