PENGEMBANGAN MATERI GEOGRAFI INTEGRASI PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING) DENGAN METODE PROBLEM- BASED LEARNING PADA
KELAS XI DI SMA N 1 UNGARAN KABUPATEN
SEMARANG
Budi
Santoso
SMA
Negeri 1 Ungaran Kabupaten Semarang
Jl. Diponegoro no. 42 Ungaran Kab. Semarang
Jurusan Pendidikan
IPS Konsentrasi Pend. Geografi Universitas Negeri Semarang
Jl. Bendan
Ngisor
Abstract
Budi, Santoso, 2011. The development of global warming intergrated
material by problem-base learning approach in the Geography class. Senior high
school. Thesis. Social program. Concentrate on Geography. Master degree of
state university Semarang. First Advisor Prof. Dr. Wasino, M.Hum. Second
advisor Dr. Dewi Lies Noor, M.Si
Geography is a
subject that emphasizes increasing students sensitiv to the physical and social
environment. Global Warming is one of the environmental problems that could
threaten the preservation of natural resources and life on earth. Inserting
global warming material in the Geography curriculum subjects and the
application of suitable learning mode is the right step to provide an
understanding of global warming and education to the students to take an active
role in preventing it as well as having concern for the creation of a green
environment, having an awareness of environmental sustainability and
sustainable development. The problems in this research is on how to develop
global warming integration material and on how is the learning instructions
(syllabi, lesson plans, evaluation tools, worksheets and student book) can be
applied in teaching global warming integration material in high school’s
geography class at the School Based Curriculum. The goal of this research is
developing Geography’s integration material of global warming, developing learning
instructions of global warming’s integration material with Problem Based
Learning’s approach in grade XI of SMA Negeri 1 Ungaran students in Semarang
Regency.
This study is
in the form of Research and Development. It is preceded by the development of the
learning instructions of Geography’s integration of global warming with Problem
Based Learning’s approach and tested on control and experimental classes. Data
is taken with the observation, questionnaires and tests. The Methods of data
analysis is using percentage of score descriptions. Problem-solving
capabilities are analyzed parametrically by using T test.
This research
has given results to the global warming learning material which consist of
syllabus with 35.6 average score with very good criteria, Lesson Plan with 36
average score with very good score, Student book with 33.6 average score with
very good criteria, student worksheet with 35 score with very good criteria so
that the teaching and learning
instructions is very good to teach global warming materials. Problem Based
Learning teaching method is more effective, students are more active, creative
and able to improve cooperation among groups.
The students’ skill in doing assignments is better than the controlled
class.
Key Words: Geography Material Development,
Global Warming, Problem Based Learning
Abstrak
Geografi
merupakan pelajaran yang menekankan pada peningkatan kepekaan siswa terhadap
lingkungan fisik dan sosial. Global Warming merupakan salah satu permasalahan
lingkungan yang dapat mengancam kelestarian sumber daya alam dan kehidupan yang
ada di bumi. Memasukkan materi pemanasan global dalam kurikulum mata pelajaran
Geografi serta penerapan model pembelajaran yang cocok merupakan langkah yang
tepat untuk memberikan pemahaman dan pendidikan pemanasan global kepada siswa..
Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1.bagaimanakah mengembangkan materi
dan perangkat pembelajaran pengembangan materi
pemanasan global pada kelas Geografi
XI SMA yang valid. 2. bagaimanakah penerapan metode problem-base learning pada pembelajaran pengembangan materi pemanasan global pada mata pelajaran Geografi
kelas XI SMA Negeri 1 Ungaran Kabupaten Semarang.
Penelitian ini
adalah penelitian pengembangan Research
and Development. Penelitian ini didahului dengan pengembangan perangkat
pembelajaran Geografi Global Warming
dengan model Problem Based Learning
dan diujicobakan pada kelas control dan eksperimen. Data diambil dengan
observasi, angket dan tes. Metode analisis data menggunakan deskripsi
persentase skor. Kemampuan pemecahan masalah dianalisi secara parametric dengan
menggunakan uji t.
Hasil
penelitian ini telah berhasil menghasilkan perangkat pembelajaran materi
pemanasan global yang terdiri dari silabus dengan skor rata-rata 35,6 dengan
kriteria sangat baik, RPP dengan skor rata-rata 36 dengan kriteria sangat baik,
Buku Siswa dengan hasil skor rata-rata 33,6 dengan kriteria sangat baik, Lembar
kegiatan Siswa dengan skor 35 dengan kriteria sangat baik sehingga perangkat
pembelajaran sangat baik digunakan untuk mengajarkan materi pemanasan global.
Pembelajaran Problem Based Learning
lebih efektif, siswa lebih aktif, kreatif dan mampu memupuk kerjasama antar
kelompok. Keterampilan siswa dalam mengerjakan tugas lebih baik dibanding kelas
control.
Disarankan
bahwa metode Problem Based
Learning
sangat tepat diterapkan pada pembelajaran Geografi pemanasan global, serta perlu dikembangkan
pada materi pembelajaran dengan tema yang lain.
Kata Kunci:
Geografi, pengembangan materi, problem-based learning, global warming
PENDAHULUAN
Latar Belakang
a. Pemanasan global (Global Warming) merupakan salah satu
permasalahan lingkungan yang dapat mengancam kelestarian sumber daya alam dan
kehidupan yang ada di bumi yang diakibatkan karena ulah manusia akan tetapi
sampai saat ini belum banyak siswa dan masyarakat yang mengerti.
b. Pendidikan formal merupakan sektor strategis yang dapat
dimanfaatkan untuk mensosialisasikan permasalahan pemanasan
global. Memasukkan materi pemanasan global
dalam kurikulum mata pelajaran Geografi serta penerapan model pembelajaran yang
cocok merupakan langkah yang tepat untuk memberikan pemahaman dan pendidikan
pemanasan global kepada siswa. Sampai saat ini belum terdapat perangkat
pembelajaran (Silabus, RPP, Suplemen Buku Siswa dan LKS) integrasi meteri pemanasan global dalam
pelajaran geografi.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas,
maka permasalahan dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimanakah mengembangkan materi dan
perangkat pembelajaran pengembangan materi
pemanasan global pada mata pelajaran Geografi kelas XI SMA yang valid.
b. Bagaimanakah efektivitas penerapan metode problem-base learning pada pembelajaran
pengembangan materi pemanasan global
pada mata pelajaran Geografi kelas XI SMA Negeri 1 Ungaran.
Tujuan Penelitian
a. Mengembangkan
materi dan perangkat pembelajaran pemanasan global (Silabus, RPP, Suplemen Buku
Siswa, LKS) pada mata pelajaran Geografi
kelas XI SMA yang valid.
b. Mengetahui efektivitas
penerapan metode problem-base learning
pada pembelajaran pengembangan materi
pemanasan global pada mata pelajaran Geografi kelas
XI SMA Negeri 1 Ungaran Kabupaten Semarang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
metode Penelitian Pengembangan (Research and Development). Penerapan Research and Development dalam
penelitian ini bertujuan untuk mensosialisasikan masalah global warming yang
sedang dihadapi masyarakat seluruh dunia kepada siswa melalui pengembangan
materi pemanasan global pada kelas XI
SMA.
Metode
Pengembangan Materi dan Perangkat
Pengembangan perangkat pembelajaran
materi pemanasan global dengan metode
PBL mengacu pada pola Rancangan
penelitian pengembangan umum (Plomp, 2007: 15).
Instrumen Validasi Perangkat Pembelajaran
Penilaian formatif dalam
penelitian ini dilakukan oleh tiga
orang, dua orang dosen ahli dari UNNES dan seorang guru Geografi yang telah
berkualifikasi S2. Untuk kemudahan proses penilaian formatif yang bersifat siklik dibuat instrumen lembar validasi
perangkat pembelajaran. Lembar validasi dilengkapi dengan pedoman
penskoran dan rubrik penskoran. Lembar validasi digunakan untuk mendapatkan
data tentang kevalidan perangkat pembelajaran dengan model PBL untuk mencapai
kemampuan kreatif dalam Geografi.
Metode
Pengumpulan dan Analisis Data Pengembangan Perangkat
Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah: tes, observasi, angket, interview, catatan belajar
siswa (learning log), portofolio, validasi dan diskusi dengan ahli.
Tabel Aktivitas penilaian penelitian pengembangan
materi pemanasan global dengan metodePBL
Obyek evaluasi
|
Maksud
Evaluasi
|
Kegiatan Evaluasi
|
Instrumen
|
Teknik
Analisis
|
Validitas
perangkat pembelajaran model PBL
|
Untuk menguji
apakah karakteristik perangkat pembelajaran model PBL sesuai dengan kriteria
poin 3.5.2
|
Diskusi dan
validasi ahli
|
Lembar
validasi
|
Analisis
deskripsi
|
Kepraktisan perangkat
pembelajaran yang dikembangkan
|
Untuk menilai
apakah respon guru dan siswa baik terhadap implementasi perangkat
pembelajaran model PBL. Apakah keterlaksanaan pembelajarannya baik.
|
Observasi
kelas dan mengisi angket
|
Lembar
observasi dan angket
|
Analisis
deskripsi
|
Keefektifan
perangkat pembelajaran model PBL yang dikembangkan
|
1. untuk menguji apakah kemampuan materi pemanasan global siswa
tuntas
2. untuk menilai apakah sikap siswa pada pembelajaran materi pemanasan global baik
3. untuk menilai apakah aktivitas siswa selama pembelajaran model
PBL baik
4. untuk menguji dampak eksperimen perangkat pembelajaran model
PBL
|
1. Melakukan tes kemampuan kreatif dalam geografi dalam akhir
intervensi
2. Melakukan penilaian sikap siswa pada Geografi
3. melakukan pengamatan dan menilai aktivitas siswa selama
pembelajaran model PBL
4. melakukan uji pengaruh aktivitas dan sikap siswa pada Geografi
terhadap kemampuan kreatif dalam geografi
|
1. TKKM
2. Angket sikap siswa pada Geografi
3. Lembar observasi
4. Lembar penilaian Open Ended
|
1. Uji t
2. Analisis deskripsi
3. uji regresi linier ganda
|
Sumber: Untung,
2010 dengan modifikasi 2011
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Silabus integrasi
materi pemanasan global yang telah disusun kemudian dimintakan penilaian kepada validator.
Berdasarkan hasil rata-rata penilaian validator mempunyai skor 35,6. Sesuai
dengan indikator yang telah ditentukan maka mempunyai nilai sangat baik dengan
kesimpulan silabus materi pemanasan
global valid dan layak digunakan.
Pada rencana
pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan ini tujuannya adalah untuk
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menghadapi dan mengatasi
pemanasan global, sehingga seluruh indikator disesuaikan dengan tujuan
tersebut. RPP pengembangan materi
pemanasan global berdasarkan hasil rata-rata penilaian validator
mempunyai skor 36. Sesuai dengan indikator yang telah ditentukan mempunyai nilai sangat baik dengan kesimpulan
RPP valid.
Buku siswa materi
pemanasan global yang telah disusun dan dimintakan penilaian kepada validator.
Berdasarkan hasil rata-rata penilaian validator mempunyai skor 33,6. Sesuai
dengan indikator yang telah ditentukan maka mempunyai nilai sangat baik dengan
kesimpulan buku siswa materi pemanasan global
valid dan layak digunakan.
Tabel Hasil Validitas Perangkat Pembelajaran
No
|
Jenis
Perangkat Pembelajaran
|
Nilai
rata-rata
Validasi
|
Kriteria
validitas
|
1
|
Silabus
|
35,6
|
Valid
|
2
|
Pencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP)
|
36
|
Valid
|
3
|
Buku Peserta Didik
|
33,6
|
Valid
|
4
|
Lembar Kerja Siswa
|
35
|
Valid
|
Jumlah Total Skor Validitas
|
139,9
|
Valid
|
|
Banyaknya aspek penilaian Perangkat
|
4
|
||
Rata-rata skor Validitas Perangkat Pembelajaran
|
34,97
|
Valid
|
Sumber: Rekap hasil validasi
perangkat pembelajaran integrsi pemanasan global oleh Validator.
Penerapan Pembelajaran Materi Pemanasan Global pada Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol.
Tabel.. Hasil Amatan Aktivitas Guru dalam
Pembelajaran
No
|
Kelas
|
Pengamat I
|
Pengamat II
|
Nilai rata-rata
|
Kriteria
|
1
|
Kontrol
|
28
|
24
|
26
|
Sedang
|
2
|
Eksperimen
|
40
|
38
|
49
|
Amat baik
|
Dari data hasil pengamatan
aktivitas guru dalam pembelajaran tersebut terdapat perbedaan yang nyata antara
kelas control dengan kelas eksperimen.
Uji Ketuntasan Hasil Belajar
Uji ketuntasan belajar yang diukur dalam penelitian
ini adalah uji ketuntasan secara klasikal dan ketuntasan individual.
a. Uji Ketuntasan Klasikal
Pengukuran ketuntasan kemampuan pemecahan masalah
pada kelas eksperimen secara klasikal digunakan uji rata-rata dua pihak,
Hipotesis statistiknya sebagai berikut.
Ho: µo = 69, (kemampuan pemecahan pemanasan global
peserta didik= 69). H1: µo ≠ 69 , (kemampuan pemecahan pemanasan global peserta didik= 69).
Data nilai tes kemampuan pemecahan masalah peserta
didik dapat dilihat pada lampiran 19 dan
terangkum pada tabel 10.
Tabel Hasil Uji Ketuntasan Klasikal
Kelompok
|
Mean
|
µo
|
thitung
|
p value
|
Eksperimen
|
77,87
|
69
|
6,523
|
0,000
|
Kontrol
|
71,32
|
69
|
1,465
|
0,155
|
Sumber: Lampiran 19 uji
ketuntasan klasikal
Berdasarkan nilai kemampuan pemecahan masalah
peserta didik dengan program SPSS 12 diperoleh rata-rata kemampuan pemecahan
masalah kelompok eksperimen sebesar 77,87. Melalui uji mean dengan µo =
69 diperoleh thitung = 6,523 dengan p value = 0,000 < 0,05 yang
berarti bahwa kemampuan pemecahan masalah tentang pemanasan global pada
kelompok eksperimen secara nyata melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 69.
Rata-rata kemampuan pemecahan masalah peserta didik
pada kelompok kontrol sebesar 71,32. Hasil uji mean menggunakan uji t diperoleh
thitung = 1,465 dengan p value = 0,155 > 0,05 yang berarti bahwa
rata-rata kemampuan pemecahan masalah tidak berbeda nyata dengan KKM yaitu 69.
Dengan demikian pada kelompok kontrol pun secara klasikal telah mencapai
ketuntasan belajar.
b. Uji Ketuntasan Individual
Untuk mengukur secara individual digunakan uji
proporsi satu pihak:
HO : Ө ≥ 0,75 (minimal
75 % peserta didik mencapai nilai KKM).
H1 : Ө > 0,75 (75 %
peserta didik tidak mencapai nilai KKM).
Data tentang
ketuntasan secara individual dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dapat dilihat pada Lampiran.
Tabel Hasil Uji Ketuntasan
Individual
Kelompok
|
Banyaknya peserta didik
|
Banyaknya yang tuntas
|
Proporsi ketuntasan
|
µo
|
thitung
|
p value
|
Eksperimen
|
27
|
25
|
92,59%
|
75%
|
3,425
|
0,002
|
Kontrol
|
26
|
19
|
73,08%
|
75%
|
-0,217
|
0,830
|
Sumber:
Lampiran 19 tentang uji ketuntasan individual
Banyaknya
peserta didik yang tuntas belajar pada kelompok eksperimen dengan KKM ≥ 69
adalah 25 siswa atau 92,59%. Hasil uji t untuk proporsi ketuntasan dengan
proporsi pembanding 75% diperoleh thitung = 3,425 dengan pvalue = 0,002 <
0,05. Dengan demikian secara nyata ketuntasan belajar pada kelompok eksperimen
lebih besar dari batas yang ditetapkan yaitu 75% atau telah mencapai ketuntasan
individual.
Banyaknya
peserta didik yang tuntas belajar pada kelompok control dengan KKM ≥ 69 adalah
19 siswa atau 73,08%. Hasil uji t untuk proporsi ketuntasan dengan proporsi
pembanding 75% diperoleh thitung = -0,217 dengan p value = 0,830 > 0,05.
Dengan demikian secara nyata ketuntasan belajar pada kelompok control tidak
berbeda nyata dengan batas yang ditetapkan yaitu 75%. Dengan demikian
ketuntasan individual masih di daerah batas toleransi.
Uji
Beda Dua Rata-rata Kemampuan Pemecahan Masalah
Uji beda dua
rata-rata kemampuan pemecahan masalah antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dapat dilihat dari uji t seperti tercantum pada lampiran 20 disini terlihat Terlihat pada tabel 4.8,
nilai thitung = 3,137 dengan pvalue = 0,003 < 0,05 yang berarti
bahwa secara nyata ada perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara kelompok
eksperimen XI IPS1 dan kelompok control XI IPS3.
Tabel 1. Hasil Uji Beda Dua Rata-rata Kemampuan
Pemecahan Masalah
Kelompok
|
Rata-rata
|
Thitung
|
p value
|
Kriteria
|
Eksperimen
|
77,87
|
3,137
|
0,003
|
Berbeda nyata
|
Kontrol
|
71,32
|
Sumber: Lampiran 20 analisa data uji beda dua rata-rata
Uji
Beda Dua Rata-rata Motivasi Belajar
Uji beda dua
rata-rata motivasi belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dapat dilihat dari uji t seperti tercantum pada lampiran C.9 dan terangkum pada tabel berikut.
Tabel Hasil Uji Beda Dua
Rata-rata Motivasi Belajar
Kelompok
|
Rata-rata
|
t hitung
|
p value
|
Kriteria
|
Eksperimen
|
83,52
|
3,083
|
0,003
|
Berbeda nyata
|
Kontrol
|
77,27
|
Terlihat pada
tabel 4.8, nilai thitung = 3,083 dengan pvalue = 0,003 < 0,05
yang berarti bahwa secara nyata ada perbedaan motivasi antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol.
Analisis Regresi Pengaruh Motivasi
terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Pemanasan Global
Analisis
regresi linear dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi pengaruh motivasi
terhadap kemampuan pemecahan masalah dari masing-masing kelompok sampel. Dalam
analisis regresi ini diperoleh persamaan regresi, nilai R square dan uji
signifikansi menggunakan uji F. Hasil pengujian ini selengkapnya dapat dilihat
pada rangkuman tabel
Tabel Analisis Regresi Motivasi terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah
Kelompok
|
Model regresi
|
R2
|
Fhitung
|
p value
|
Kriteria
|
Eksperimen
|
Y = 19,377 + 0,700X
|
0,605
|
38,361
|
0,000
|
Signifikan
|
Kontrol
|
Y = 2,795 + 0,887X
|
0,564
|
31,073
|
0,000
|
Signifikan
|
Tabel 14
memperlihatkan bahwa model regresi untuk menyatakan pengaruh motivasi terhadap
kemampuan pemecahan masalah pada kelompok eksperimen adalah Y = 19,377 +
0,700X. Model tersebut diuji kebermaknaannya menggunakan uji F dan diperoleh F hitung
= 38,361 dengan p value = 0,000, yang berarti bahwa secara nyata ada pengaruh
motivasi terhadap kemampuan pemecahan masalah, dengan kontribusi sebesar 60,5%.
Model regresi
untuk menyatakan pengaruh motivasi terhadap kemampuan pemecahan masalah pada
kelompok control adalah Y = 2,795 + 0,887X. Model tersebut diuji
kebermaknaannya menggunakan uji F dan diperoleh F hitung = 31,073
dengan p value = 0,000, yang berarti bahwa secara nyata ada pengaruh motivasi
terhadap kemampuan pemecahan masalah, dengan kontribusi sebesar 56,4%.
Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Materi Pemanasan Global
Hasil olah data dengan membandingkan nilai rata-rata hasil kemampuan pemanecahan masalah antara kelas uji coba
perangkaat dengan kelas kontrol terlihat bahwa nilai rata-rata ketuntasan kelas uji coba lebih tinggi
dibandingkan dengan
rata-rata
ketuntasan kelas kontrol. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model kooperatif strategi group
investigasi melalui metode problem-base learning lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan ekspositori yang selama ini dilakukan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan uraian
hasil penelitian Pengembangan Materi
Pemanasan Global (Global Warming) dengan Metode Problem-base learning pada kelas
Geografi SMA dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penelitian pengembangan materi
pemanasan global dengan metode Problem-Base
Learning pada kelas Geografi XI SMA
negeri 1 Ungaran ini telah menghasilkan perangkat pembelajaran (Silabus,
RPP, Buku siswa dan RPP).
Penelitian pengembangan materi Geografi integrsi pemanasan global
ini mengacu pada penelitian pengembangan model 4-D. Pengembangan perangkat pembelajaran materi pemanasan global dengan metode PBL ini mengacu pada pola Rancangan penelitian pengembangan umum. Rancangan penelitian
pengembangan umum ini meliputi tahap-tahap preliminary research/preliminary
in-vesligation/front-end analysis,
prototyping dan assessment.
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif
dengan metode PBL sangat efektif digunakan untuk pembelajaran pemanasan global dibuktikan dengan respon
guru yang sangat baik serta siswa menanggapi dengan antusias dalam mengikuti pembelajaran pemanasan global dengan metode problem-base learning. Guru beranggapan sangat pas bila pemanasan
global di masukkan dalam pembelajaran Geografi dengan menggunakan metode PBL
karena siswa menjadi lebih aktif dan kreatif serta tidak membosankan. Dalam
pembelajaran dengan metode PBL siswa
lebih aktif dan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran. Pada kelas
eksperimen (XI IPS 1) mempunyai kemampuan pemecahan masalah pemanasan global
lebih baik dari pada kelas kontrol (XI IPS3) yang menerapkan pembelajaran
dengan strategi ceramah bervariasi. Pembelajaran integrsi materi pemanasan
global dengan metode PBL terbukti
efektif.
Saran
Berdasarkan
hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran sebagai berikut:
1. Guru Geografi sebaiknya senantiasa meningkatkan pemahaman tentang
pemanasan global serta mengajarkan kepada siswa agar siswa mempunyai
pengetahuan pemanasan global dan kepedulian lingkungan. Memasukkan materi pemanasan
global dalam kurikulum mata pelajaran geografi serta penerapan
model pembelajaran kooperatif dengan
metode problem-base
learning merupakan langkah
yang tepat dalam rangka untuk memberikan pemahaman dan pendidikan mengenai pemanasan
global kepada siswa agar dapat berperan aktif dalam menanggulangi pemanasan global
2. Guru Geografi hendaknya melakukan inovasi dan kreasi dalam
pembelajaran agar pembelajaran gegrafi
tidak membosankan dan lebih melibatkan siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran menggunakan
model pembelajaran kooperatif dengan metode problem-base learning, dapat di jadikan pilihan dalam pembelajaran
karena dengan pembelajaran problem-base learning pembelajaran menjadi lebih hidup, siswa
lebih aktif sehingga motivasi anak
meninggkat.
3. Bagi pengambil kebijakan dan
pengembang kurikulum.
Pemanasan
global merupakan permasalahan yang harus ditanggulangi semua fihak, pengetahuan
siswa tentang pemanasan global masih kurang. Sangat diperlukan
sosialisasi pelatihan-pelatihan tentang pengelolaan lingkungan dalam rangka
pencegahan pemanasan global bagi guru dan siswa.
UCAPAN TERIMA KASIH
Mengucapkan
terimakasih yang setulus- tulusnya kepada:
1.
Prof. Dr. Wasino, M.Hum sebagai
pembimbing I.
2.
Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si
sebagai pembimbing II.
3.
Kepala Sekolah dan segenap guru SMA
N 1 Ungaran, yang telah membantu dan mendukung kelancaran pengumpulan data
penelitian ini.
4. DIPA PNBP Universitas Negeri Semarang sebagai pemberi bantuan dana
penelitian dengan nomor kontrak 2580/H37.2/TU/201
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
S, 2006, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi
Aksara
Ginoga, K.L, Gintings, A.N., dan Wibowo, A.,
2007. Isu pemanasan global, UNFCCC,
Kyoto Protocol, dan peluang aplikasi A/R CDM di Indonesia. BPPK,
Jakarta.
Ian S.F. Jones,
2009, The Potential of the ocean for the
management of global warming. Int.J.
Global Warming.University Of Sidney,
Vol. 1 1.2.3, 2009. Diakses dari www//http. Journal global warming.org.
diakses 11 Nopember 2010.
Kadis, 2009, Model Pembelajaran Tematik Kontekstual Untuk Meningkatkan Kepekaan
Lingkungan Pada Siswa Kelas Awa, Tesis, Program Pasca Sarjana UNNES,
Semarang.
Lenny, Herliawati,
2010, Perubahan iklim, Modul PUP3B,
Direktorat Pendidikan dan Pelatihan, Jakarta.
Plomp, T., 2007, Educational
Design Research: an Introduction. dalam An
Intruduction to Educational Design Research (Van Den Akker, Bammam, Kelly,
Nieven&Plomp)
Pujiono, 2010, Pengembangan Model Pembelajaran Geografi Berbasis Lingkungan Masyarakat
desa sekitar Hutan dengan Strategi Inquiry-Discovery Pokok Bahasan Upaya
Pelestarian Lingkungan Hidup. Tesis, Program Pasca Sarjana UNNES, Semarang.
Rosen, Marc A., 2009, Combating Global Warming Via
Non-Fossil Fuel Energy Options, Journal Int. Global Warming, Vol. 1,
Nos. 1/2/3. Faculty of Engineering and Applied Science University of Ontario
Institute of Technology 2000, Ontario, Canada.
Sunoto,Untung, 2010, Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Matematika dengan Model PBL, Untuk Mencapai Kemampuan Kreatif Dalam Matematika
Siswa kelas IX Materi Bilangan, Tesis, PPs, UNES, Semarang.
Suparno, Paul, 1997, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Kanisius: Yogyakarta..
Tiagaradjan, S. Sammel, 1974, Instructional
Development for Teachers of Exceptional Student: Sourcebook. Mineapolis:
Indiana University Blomington.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar