Penelitian Tindakan Kelas
Budi Santoso 2014
Pembahasan tentang
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disajikan dalam bentuk tanya jawab.
Pertanyaan yang dijawab dalam pembahasan ini meliputi tujuan PTK, perumusan
masalah PTK, proses PTK, criteria of success, penggunaan
kelompok yang sama untuk pelaksanan siklus kedua, ketiga dst, penggunaan kata
kerja Bahasa Inggris dalam melaporkan Planning (pada bab 3:
Metode Penelitian), isi dalam tahapimplementing, ukuran
keberhasilan satu siklus pada PTK, penggunaan perbedaan pre-test dan
post-test sebagai ukuran keberhasilan PTK, data yang dikumpulkan pada
tahap Observing, isi pada Bab 4 pada tesis yang berjudul Findings (Hasil) and
Discussion, cara penulisan kesimpulan pada laporan penelitian atau tesis
PTK, produk PTK, rancangan Kuantitatif atau Kualitatif, dan penyajian
pembahasan tentang data, instrumen pengumpulan data, pengumpulan data, dan
analisis data.
1. Apa Tujuan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
Penelitian tindakan kelas
adalah satu rancangan penelitian yang dirancang khusus untuk peningakatan
kualitas praktek pembelajaran di kelas. Peneliti dalam PTK adalah guru
yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Dengan demikian guru
yang melakukan penelitian tindakan kelas berperan ganda, yaitu sebagai guru dan
sebagai peneliti (teacher-researcher). Sebagai guru dia harus
menyelesaikan masalah pembelajaran (dengan demikian dia meningkatkan kualitas
praktek pembelajaran) di kelasnya, sedangkan sebagai peneliti dia harus
menghasilkan karya ilmiah yang berupa strategi pembelajaran inofatif yang bisa
dimanfaatkan oleh guru-guru lain yang memiliki masalah yang serupa.
Tahun 1976, John Elliot (1991) membangun
jaringan peneliti tindakan kelas bagi guru-guru di Inggris dan negara-negara
lain untuk bersama-sama membagi pengalaman penelitian tindakan di dikelasnya
melalui korespondensi atau pertemuan.
The classroom Action
Research Network was established in 1976 to enable individuals and groups
committed to action research in the UK and other countries to communicate with
each other and share experience through correspondence, papers documenting the
experience of action research and conferences. (Elliot, 1991:39).
Dengan demikian penelitian tindakan kelas yang
dilakukan oleh teacher-researcher berfungsi ganda, yaitu
meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya (as a teacher) dan
berbagi pengalaman keberhasilannya dalam memecahkan masalah tersebut (as a
researher) melalui karya ilmiah inofatif pembelajaran. Dengan berbagi
pengalaman melalui jaringan PTK itulah kulitas pembelajaran di satu daerah bisa
bersama-sama meningkat.
2. Bagaimana merumuskan
masalah PTK?
Rumusan masalah adalah
pernyataan tujuan penelitian yang lebih operasional (biasanya) dalam bentuk
kalimat tanya. Karena tujuan PTK meliputi dua hal (a) penyelesaian masalah
pembelajaran di kelas dan (2) strategi pembelajaran yang akan dikembangkan
sebagai karya ilmiah inofatif untuk disebarluaskan kepada khalayak guru,
rumusan masalah penelitian tindakan kelas harus mengakomodasi ke dua aspek
tersebut.
Beberapa ahli menyatakan bahwa rumusan masalah
PTK harus menonjolkan (topicalization) aspek penyelesaian masalahnya,
sementara yang lain harus menonjolkan aspek pengembangan strateginya.
Kelompok pertama yang lebih mengedepankan pemecahan masalah pembelajaran dalam
rumusan masalah penelitiannya tidak melihat PTK sebagai penelitian yang
mengembangkan sebuah strategi pembelajaran, sehingga tidak setuju mengedepankan
pengembangan strategi pembelajaran. Bagi kelompok ini yang utama adalah
menyelesaikan masalah. Kelemahan pemahaman ini adalah kemungkinan diabaikannya
produk penelitian yang berupa karya ilmiah inofatif strategi pembelajaran yang
bisa disebarluaskan ke khalayak guru bidang studi yang sama. Beberapa kali
pengalaman penulis menemukan laporan PTK (di seminar nasional maupun dalam
banyak tesis S2) yang tidak disertai produk strategi pembelajaran inofatif yang
telah dikembangkan, sehingga peserta seminar dan pembaca laporan PTKnya tidak
bisa menggunakan pengalaman keberhasilan peneliti tersebut.
Sementara kelompok yang
mengedepankan pengembangan strategi pembelajaran inofatif beranggapan bahwa PTK
dilatar belakangi oleh masalah pembelajaran yang ingin dipecahkan atau oleh
tujuan untuk meningkatkan kualitas praktek pembelajaran dikelasnya. Dengan kata
lain, penyelesaian masalah atau peningkatan kualitas pembelajaran ditempatkan
sebagai dasar/alasan untuk melakukan PTK yang akan menghasilkan sebuah strategi
pembelajaran inofatif. Karena ukuran (criteria of success) kualitas
strategi pembelajaran yang dikembangkan (dengan tahapan dirumuskan, dicobakan,
dievaluasi, kemudian direvisi untuk dicoba lagi pada siklus berikutnya) adalah
penyelesaian masalah atau peningkatan kualitas pembelajaran yang telah
ditargetkan, maka kelompok ini melihat bahwa yang diutamakan dalam PTK adalah
produk strategi pembelajaran inofatifnya dengan tanpa mengabaikan pemecahan
masalah atau peningkatan kualitas pembelajarannya.
Contoh rumusan masalah PTK yang mengedepankan
pemecahan masalah
§ How
can the skill of writing recount texts of the second year students of SMP
Negeri 3 Nganjuk in 2007/2008 academic year be improved through the
implementation of interactive experience? (Sumidi, 2008:6)
§ How
can reading comprehension instruction be improved using the Reciprocal Teaching
Strategy?(Iyan Hayani, 208:5)
§ Bagaimana
meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking melalui strategi pembelajaran
dengan Picture Games?
Contoh rumusan masalah PTK yang
mengedepankan produk strategi pembelajaran inofatif
§
Bagaimana mengembangkan strategi pembelajaran dengan Picture
Games yang bisa meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking?
§
How can the Reciprocal Teaching Strategy be developed to improve
the quality of reading comprehension instruction?
3. Bagaimana
merumuskan tujuan PTK?
Sebagaimana perumusan masalah PTK, perumusan
tujuan PTK yang benar tentunya juga harus menagandung dua unsur tersebut, yaitu
masalah yang akan dipecahkan dan strategi yang akan dikembangkan untuk
memecahkan masalah tersebut. Apapaun rumusannya asal isinya meliputi dua unsur
tersebut bisa dianggap benar, atau apapun rumusan tujuannya, bila tidak lengkap
berisi dua unsur tersebut, rumusan tujuan PTK tersebut salah.
Contoh rumusan tujuan PTK yang mengedepankan
pemecahan masalah
§ This
study aims at improving the skill of writing recount texts of the second year
students of SMP Negeri 3 Nganjuk in 2007/2008 academic year through the
implementation of interactive experience?(Sumidi, 2008:6)
§ The purpose
of this study is to improve the quality of reading comprehension instruction
using the Reciprocal Teaching Strategy (Iyan Hayani, 208:5)
§ Penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking
melalui strategi pembelajaran dengan Picture Games
Contoh rumusan masalah PTK yang
mengedepankan produk strategi pembelajaran inofatif
§
Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan strategi
pembelajaran dengan Picture Games yang bisa meningkatkan partisipasi siswa
dalam pembelajaran speaking.
§
This study aims at developing the Reciprocal Teaching Strategy
to improve the quality of reading comprehensiuon instruction
4. Berapa jumlah
pertanyaan PTK?
Masalah PTK yang benar harus berisi dua aspek,
yaitu penyelesaian masalah (misalnya meningkatkan partisipasi siswa dalam
pembelajaran speaking) dan strategi yang dikembangkan (misalnya
strategi penggunaan Picture Games) untuk memecahkan masalah
tersebut. Selama dua aspek tersebut terkandung dalam sebuah rumusan masalah
PTK, maka rumusan masalah tersebut sudah benar.
Penambahan beberapa sub-masalah untuk merinci
rumusan masalah (utama) bisa saja dilakukan selama tidak mengurangi kejelasan
makna dari rumusan masalah (utama) nya, misalnya tetap hanya akan menghasilkan
satu strategi dalam satu PTK. Rumusan masalah yang bisa dirinci menjadi
beberapa sub-masalah adalah rumusan masalah yang mengembangkan satu strategi
pembelajaran inofatif yang bisa dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan
pembelajaran, misalnya tahapan pembelajaran dalam writing, bisa dirinci menjadi
5 tahapan pembelajaran, yaitu (1) tahapan pembelajaran activating schemata,
(2) tahapan pembelajaran brainstorming, (3) tahapan
pembelajaran drafting, (4) tahapan pembelajaran editing,
dan (5) tahapan pembelajaran publishing. Kelima strategi
tersebut membentuk satu strategi yang terkait bukan membentuk 5 strategi yang
berbeda dan terpisah.
Menjadi kurang jelas apabila satu rumusan
masalah dirinci berdasar kriteria keberhasilan PTK, karena akan memberikan
kesan seakan-akan yang dikembangkan lebih dari satu strategi pembelajaran.
Misalnya strategi (tertentu) yang dikembangkan untuk meningkatkan
kualitas writing siswa, dirinci menjadi beberapa sub-strategi,
yaitu (1) strategi untuk meningkatkan kualitas penggunaan tata bahasa, (2)
strategi untuk meningkatkan kekayaan kosa kata, (3) strategi untuk meningkatkan
kualitas koherensi, (4) strategi untuk meningkatkan kualitas organisasi
karangan, (5) strategi untuk meningkatkan kualitas isi karangan, dsb. Ke lima
hal tersebut menjadi indikator keberhasilan satu strategi utama, bukan
sub-bagian atau tahapan kegiatan pembelajaran dengan strtaegi (utama) tersebut.
5. Bagaimana proses PTK?
Proses PTK dimulai dengan
identifikasi masalah pembelajaran yang ditemui di kelas oleh guru yang akan
melakukan PTK. Tidak ada guru yang tidak memiliki masalah pembelajaran di
kelasnya. Yang dimaksud masalah pembelajaran.adalah situasi pembelajaran dan
atau hasil pembelajaran yang masih bisa ditingkatkan. Guru professional selalu
mencari cara untuk melaksanakan praktek pembelajaran yang lebih baik dari yang
sudah diusahakan. Sebaliknya guru yang tidak profesional merasa tidak perlu
lagi mengupayakan peningkatan kualitas pembelajarannya karena dia merasa masih
banyak praktek pembelajaran oleh guru lain yang belum sebaik yang dia
laksanakan. Guru yang tidak professional semacam ini tidak pernah merasa ada
masalah dalam praktek pembelajaran yang dia laksanakan. Sebaliknya guru
yang professional selalu melihat banyak masalah yang bisa diselesaikan
untuk meningkatkan kualitas praktek pembalajaran. Tentunya tidak semua masalah
akan diselesaikan sekaligus, beberapa masalah saja yang dipilih sebagai
prioritas untuk diselesaikan lebih dulu. Masalah inilah yang diangkat sebagai
dasar melaksanakan PTK.
Tahap berikutnya adalah
mencari alternatif strategi pembelajaran yang paling cocok untuk mengatasi
masalah yang telah dipilih melalui kajian sumber pustaka atau diskusi dengan
sejawat. Peneliti harus bisa menjelaskan bahwa strategi yang dipilih bisa
menyelesaikan masalah yang akan dipecahkan. Ukuran terselesaikannya
masalah melalui strategi yang dipilih itu nantinya akan digunakan sebagai criteria
of success, yang menentukan apakah strategi tersebut masih harus
dimodifikasi lagi atau dianggap sudah baik. Strategi tersebut kemudian
harus dirumuskan dalam skenario pembelajaran yang berisi langkah-langkah
pembelajaran, dilengkapi dengan bahan ajar dan media pembelajaran yang relevan.
Penyiapan strategi ini disebut dengan tahap perencanaan (tahap pertama).
Tahap kedua adalah
mengimplemantasikan skenario pembelajaran yang telah disiapkan. Sebelum
melaksanakan pembelajaran, peneliti harus berlatih menguasai skenario pembelajaran
yang telah disiapkan sehingga pada saat implementasi, kegiatan pembelajaran
sudah bisa diamati untuk melihat tingkat keberhasilannya. Apabila ternyata
dalam pelaksanaan pembelajaran, skenario pembelajaran yang telah disiapkan
tidak diikuti dengan baik, maka pembelajaran tersebut belum bisa diamati untuk
dievaluasi tingkat keberhasilanya.
Tahap ketiga adalah
pengamatan. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran seperti yang telah
direncanakan sebelumnya diamati untuk dilihat tingkat keberhasilannya. Tujuan
pengamatan adalah untuk mengumpulkan data yang menjadi indikator dampak dari
implementasi strategi yang telah direncanakan, untuk menentukan seberapa jauh
strategi yang diimplementasikan telah mampu menyelesaikan masalah seperti yang
telah ditentukan dalam criteria of success. Data yang
dikumpulkan pada tahap ini bukan yang terkait dengan indikator kesesuaian
antara skenario pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran, karena kesesuaian
ini sudah harus dijamin tidak berbeda. Sekali lagi kalau masih ada perbedaan,
maka pelaksanaan pembelajaran belum bisa diamati, karena pengamatan hanya untuk
melihat dampak dari strategi pembelajaran yang telah sesuai dengan
skenarionya. Checklist untuk kegiatan guru dan siswa, seperti
yang banyak dilakukan oleh mahasiswa yang sedang melakukan PTK untuk
kepentingan tesisnya, tidak dipakai untuk mengamati keberhasilan strategi
pembelajaran, tetapi dipakai pada saat latihan sebelum memulai implementasi
yang sesungguhnya.
Tahap keempat adalah
refleksi. Pada tahap ini, data yang telah terkumpul pada tahap pengamatan
dianalisis, untuk disimpulkan, kemudian dibandingkan dengan criteria of
success. Apabila hasil analisis menunjukkan bahwa target criteria
of success telah tercapai, maka strategi tersebut telah terbukti mampu
menyelesaikan masalah yang sedang dipecahkan. Penelitian dilanjutkan
dengan melaporkan hasil penelitian yang berupa tesis atau artikel ilmiah dan
menuliskan secara lebih detail (sebagai panduan) bagi orang lain bagaimana
mengimplementasikan strategi tersebut di tempat lain yang memiliki masalah yang
sama. Tetapi apabila target belum tercapai, peneliti harus mempelajari
kembali strategi tersebut, untuk menentukan bagaian mana dari strategi tersebut
yang harus dimodifikasi, untuk diimplementasikan pada siklus berikutnya.
6. Apa saja yang bisa
dijadikan criteria of success?
Kriteria keberhasilan
dikembangkan dari masalah pembelajaran yang akan dipecahkan atau tujuan
peningkatan kualitas pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam pembelajaran banyak
aspek menjadi ukuran keberhasilan. Kegiatan pembelajaran yang tidak
menghasilkan tingkat prestasi akademik seperti yang diinginkan pada peserta
didik memiliki masalah pembelajaran yang perlu dipecahkan. Kegiatan
pembelajaran yang tidak berdampak pada tumbuhnya motivasi peserta didik untuk
memiliki self-regulated learning, atau kegiatan belajar mandiri
memiliki masalah pembelajaran yang perlu dipecahkan. Kegiatan pembelajaran yang
berlangsung dalam suasana yang tidak menyenangkan, yang menakutkan, yang
menimbulkan stress bagi peserta didik ataupun bagi gurunya, yang menyebabkan
peserta didik kehilangan kepercayaan akan kemampuan dirinya untuk menguasai
ketrampilan yang sedang dipelajari, yang mematikan kemampuan sosial siswa
(seperti kerjasama, kepedulian) adalah kegiatan pembelajaran yang memiliki
masalah yang perlu dipecahkan.
Indikator terpecahkannya
masalah-masalah tersebut bisa berupa data kuantitatif (seperti skor hasil tes
yang menggambarkan prestasi akademik, frekwensi bertanya yang menggambarkan
keaktifan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, dsb), dan atau data
kualitatif (seperti gambaran suasana kelas, gambaran suasana batin peserta
didik maupun guru yang bersangkutan). Data kuantitatif sangat objektif, terukur
dengan pasti dan bisa dianalisis secara statitik. Sementara data kualitatif
sangat subjektif berupa gambaran suasana kelas, kecintaan peserta didik pada
bidang yang sedang dipelajarai, dsb.
Strategi pembelajaran
yang dihasilkan melalui PTK akan memiliki banyak kelebihan yang menarik bagi
banyak guru lain untuk ikut menggunakannya dalam kelas mereka apabila telah
terbukti mampu mencapai target criteria of success baik yang
berupa prestasi akademik maupun atmosfir akademik yang menunjang.
7. Apa yang
dimaksud satu siklus?
Satu siklus adalah satu
putaran dalam PTK yang di dalamnya melipti tahapan kegiatan perencanaan
strategi pembelajaran, tahapan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan strategi
yang telah disiapkan, yang diamati tingkat keberhasilannya, dan dievaluasi
apakah tingkat keberhasilan sudah mencapai yang ditargetkan. Pelaksanaan
pembelajaran sesuai dengan strategi yang telah direncanakan bisa terdiri dari
satu atau beberapa pertemuan yang merupakan kelanjutan dalam satu unit strategi
yang telah direncanakan. Misalnya, pertemuan pertama untuk tahapan pembelajaran
menulis berupa pembangkitan skemata siswa (schemata activation)
dilanjutkan dengan drafting awal, pertemuan kedua adalah
tahapan peer editing dan revising, dan pertemuan
ketiga melanjutkan tahapan publishing. Dalam contoh ini tiga pertemuan
dilaksanakan dalam satu siklus.
Apabila satu pertemuan
sudah melaksanakan pembelajaran secara utuh, misalnya pembelajaran speaking
satu jam pertemuan dengan Picture Games, maka pertemuan satu jam
berikutnya dengan picture games lagi merupakan siklus
lanjutan. Dalam contoh ini setiap jam pertemuan speaking melibatkan
proses perencanaan strategi Picture Games, pelaksanaan pembelajaran
dengan Picture Games yang telah direncanakan, yang diamati,
dan kemudian dievaluasi keberhasilannya. Pada pertemuan berikutnya, strategi
pembelajaran Pictue games tersebut telah dimodifikasi, untuk
kemudian dilaksanakan, diamati, dan dievaluasi lagi tingkat keberhasilannya.
8. Bolehkah
menggunakan kelompok yang sama untuk pelaksanan siklus kedua, ketiga dst.?
Hal yang perlu dijaga dalam pelaksanaan siklus
berikutnya adalah tidak terjadinya pengulangan pembelajaran pada kelas yang
sama dengan topik pembelajaran yang sama karena apabila ini terjadi,
keberhasilan pembelajaran bukan indikator dari keberhasilan pemakaian strategi
tersebut tetapi karena pengulangan pembelajaran. Pengulangan pembelajaran di
satu kelas seharusnya menggunakan metode lain yang bertujuan untuk pengayaan
atau remedy. Sebaiknya siklus lanjutan dilakukan pada kelompok lain yang
memulai pembelajaran dari awal bukan mengulang pelajaran sebelumnya. Kelas yang
sama bisa saja menjadi tempat pelaksanaan siklus berikutnya (tentunya untuk
topik pembelajaran yang beda) apabila strategi yang sedang dikembangkan cocok
untuk berbagai topik pembelajaran.
9. Apakah Planning (pada
bab 3: Metode Penelitian) dalam tesis berisi laporan kegiatan yang telah
dilaksanakan sehingga mengunakan past tense verbs atau berisi
strategi yang akan dikembangkan?
Planning pada
bab 3 berisi strategi yang akan dikembangkan, akan direvisi, ditambah,
dikurangi, dsb. bukan laporan yang telah dilaksanakan, jadi tidak
menggunakan past-tense verbs. Dalam penelitian jenis lain, Bab3
tentang metode penelitian berisi laporan proses kegiatan penelitian,
seperti design penelitian yang telah digunakan, proses
pemilihan sample yang telah dilaksanakan, instrumen pengumpulan data yang telah
dikembangkan dan digunakan, pengumpulan data dan analisis data yang telah
dilaksanakan dalam penelitian tersebut, sehingga kata kerja Bahasa Inggris yang
digunakan harus berbentuk past tense. Tapi Penelitian tindakan kelas berbeda.
Strategi di Bab 3 adalah yang akan dikembangkan. Memang seluruh tesis
adalah laporan penelitian, tetapi dalam laporan penelitian ada
bagian-bagiannya, ada bagian perencanaan pada Bab 1, ada bagian kajian teori
pada bab 2, ada bagian metode penelitian pada bab 3, ada bagian hasil
penelitian pada bab 4, dsb. yang tidak semuanya merupakan laporan kegiatan yang
harus menggunakan past tense verbs.
10. Apa yang disebutkan
dalam tahap implementing?
Pada tahap implementing,
peneliti cukup melaporkan cara kerja dalam mengimplementasikan strategi
yang telah disiapkan, tidak perlu menceritakan lagi tahapan-tahapan
pembelajarannya. Semua tahapan (skenario) pembelajaran harus sudah
dideskripsikan secara detail pada tahap planning dan tidak
perlu lagi diulang pada tahap implementing.
Seringkali mahasiswa
penulis tesis berdasar PTK mengisi planning dengan rencana
yang akan dilakukan, termasuk rencana akan menyusun skenario pembelajaran,
sedangkan deskripsi skenario pembelajarannya diuraikan secara detail di
bagian implementing. Dengan cara ini strategi yang menjadi sentral
pembahasan dalam PTK berada di dalam implementing, bukan di
bagian planning. Ini bertentangan dengan alur prosedur PTK,
yaitu apabila satu siklus belum mencapai prestasi yang ditargetkan, maka
langkah berikutnya adalah memperbaiki planning (yang berisi
skenario pembelajaran) bukan memperbaikiimplementing. Kalau skenarionya
berada dalam bagian implementing, berarti skenarionya tidak
diperbaiki. Atau dengan kata lain kalau planning (yang berisi
rencana akan menyusun skenario pembelajaran) itu yang diperbaiki, berarti
rencana akan menyusun skenario itulah yang akan dirubah. Ini salah, karena yang
direvisi adalah strateginya.
Dalam tahap implementing cukup
dideskripsikan secara sekilas bahwa semua kegiatan yang dilakukan pada tahap
ini berdasarkan strategi yang telah disiapkan, perlu dijelaskan siapa pelaksana
pembelajarannya, biasanya peneliti sendiri, siapa observernya,
bagaimana training yang telah dilakukan untuk menjamin bahwa
strategi itu betul-betul telah dikuasai oleh implementer dan
siap diamati tingkat keberhasilannya. Tidak lagi ada pertanyaan apakah implementernya
sudah menguasai strateginya atau belum. Tidak relevan lagi pertanyaan Seberapa
jauh strategi yang telah disiapkan telah diikuti dalam proses
implementasi karena semua ini sudah harus dikuasai, dilatihkan sebelum
penelitian dimulai. Kalau dalam perjalanan ternyata implementasi belum sesuai
dengan strategi yang telah disiapkan, maka pengamatan terhadap dampak
keberhasilan belum bisa dilakukan. Penelitian harus diulang kembali dari awal.
11. Apa ukuran
keberhasilan sebuah siklus pada PTK?
Sebuah siklus dalam PTK
dikatakan sudah berhasil atau belum berhasil diukur dari pencapaian target yang
telah ditentukan, yang berupa kriteria keberhasilan. Apabila pencapaian hasil
sudah sama seperti yang ditargetkan, maka siklus tersebut sudah berhasil, apabila
belum sesuai target, maka strateginya harus direvisi untuk digunakan pada
siklus berikutnya. Begitu juga pada siklus ke dua, dst, ukuran keberhasilannya
diukur dengan membandingkan prestasi/dampak yang telah dicapai dengan kriteria
keberhasilan yang telah ditargetkan, bukan dibandingkan dengan hasil sebelum
siklus 1 atau hasil pada siklus 1.
12.
Bolehkah menggunakan perbedaan pre-test dan post-test sebagai ukuran
keberhasilannya?
Pre-test dan Post-test digunakan dalam rancangan penelitian
jenis lain, yaitu jenis causal design, bukan jenis PTK. Pada penelitian dengan
rancangan causal design, sebuah strategi dipilih untuk diuji
efektifitasnya melalui perbandingan prestasi pre-test dan post-test. Tahapannya
adalah 1) strategi dipilih untuk diuji efektifitasnya, 2) satu kelompok dipilih
sebagai subjek experimen yang akan diberikan perlakuan dengan menggunakan
strategi yang telah dipilih, 3) kemampuan awal diukur dengan pre-test,
4) perlakuan diberikan dengan strategi yang telah dipilih, 5) keberhasilan
belajar setelah diberikan perlakuan diukur denganpost-test, dan kemudian
6) hasil pre-test dibandingkan dengan post-test untuk mengukur
tingkat signikansi perbedaannya. Hasilnya adalah sebuah pernyataan apakah
strategi tersebut efektif atau tidak efektif dari aspek hasil atau
dampaknya. Tidak ada tahapan revisi terhadap strategi tersebut.
Pada PTK, tujuan penelitian adalah mengembangkan sebuah
strategi yang bisa berhasil membantu siswa menyelesaikan masalah
pembelajarannya. Tahapanya adalah 1) memilih satu kelas tertentu sebagai tempat
penelitian, biasanya kelasnya sendiri, 2) mengidentifikasi masalah pembelajaran
yang dihadapi oleh kelas tersebut, yang bisa diases dengan test, dengan
observasi, atau dengan melihat dokumen yang ada, 2) memilih strategi spesifik
yang dianggap paling cocok untuk menyelesaikan masalah pembelajaran tersebut (planning), 3) mengimplementasikan strategi tersebut (implementing), 4) mengamati keberhasilannya berdasar prestasi
yang ditargetkan (observing and reflecting), 5) merevisi
strategi untuk untuk diimplementasikan lagi pada siklus berikutnya apabila
prestasi yang ditargetkan belum tercapai atau masalah yang dicoba pecahkan
belum teratasi.
13. Data apa yang dikumpulkan pada
tahap Observing?
Tahap observasi adalah
kegiatan pengumpulan data. Data dari hasil pengamatan yang bisa dilakukan
sesuai dengan sifat datanya (kemampuan diamati dengan test, minat
diamati dengan angket, suasana kelas diamati dengan merekam apa yang terjadi di
kelas, dsb.) akan digunakan sebagian bahan refleksi untuk menentukan apakah
strategi yang telah diimplementasikan telah berhasil memecahkan masalahnya atau
belum. Bukan untuk kepentingan lainnya. Jadi kalau diungkapkan dalam
pertanyaan, maka peneliti pada saat melakukan pengamatan (pengumpulan data)
bertanya: Seberapa jauh strategi yang sedang dan telah diimplemantasikan
tersebut telah berhasil memecahkan masalah yang sedang dicoba pecahkan?
Sehingga data yang dikumpulkan adalah hal-hal yang terkait dengan dampak dari
strategi yang diimplementasikan, bukan kegiatannya sendiri. Kegiatan guru dalam
mengimplementasikan strategi bukan data.
Seringkali kesalahan
terjadi, yaitu membuat checklist untuk kegiatan guru dan siswa
untuk mengecek apakah strateginya telah dilaksanakan seperti yang diskenariokan
atau belum. Jika data ini yang dikumpulkan maka data tersebut tidak bisa
digunakan sebagai bahan refleksi untuk menilai strategi, karena data tersebut
tidak berkaitan dengan ukuran keberhasilan strtagi. Data tentang kegiatan guru
dan siswa cocok dipakai untuk memperbaiki implementasi, atau memperbaiki
kemampuan guru dalam mengimplemen-tasikan strategi seperti dalam bimbingan PPL.
PTK bukan PPL, jadi berbeda tujuannya, berbeda data yang dikumpulkan
untuk perbaikannya.
14. Apa yang
dilaporkan pada Bab 4 pada tesis yang berjudul Findings (Hasil) and
Discussion?
Bab 4 yang
berjudul Findings and Discussion berisi hasil penelitian
dan diskusi terhadap hasil penelitian tersebut. Penelitian PTK melibatkan
tahapan planning, implementing, observing, dan reflecting.
Dengan tahapan-tahapan itulah dihasilkan produk PTK yang dilaporkan pada Bab 4
dengan judul Findings and Discussion. Dengan demikian isi Bab 4
tidak perlu menceritakan lagi proses penelitian dengan sub-judulplanning,
implementing, observing, dan reflecting. Planning adalah
proses penyiapan strategi yang akan dikembangkan dalam penelitian, jadi bukan
hasil penelitian. Implementing adalah tahapan penelitian
untuk melaksanakan strategi yang telah disiapkan sebelumnya, jadi bukan hasil
penelitian. Observing dan reflecting adalah
kegiatan penelitian yang berupa proses pengumpulan data dan analisisnya, jadi
bukan hasil penelitian.
Dengan demikian Bab 4 pada laporan PTK tidak berisi proses
penelitian, tetapi hasil penelitian. Yang perlu dilaporkan adalah 1) hasil
refleksi pada siklus pertama, 2) apakah kriteria keberhasilan yang telah
ditargetkan telah tercapai atau belum, dengan didukung data 3) Bila belum
tercapai dan perlu diteruskan lagi ke siklus berikutnya, revisi apa yang telah
dilakukan terhadap strategi yang telah digunakan pada siklus pertama untuk
diimplementasikan pada siklus berikutnya, 4) hasil refleksi pada siklus
kedua, 2) apakah kriteria keberhasilan yang telah ditargetkan telah tercapai
atau belum, 3) Bila belum tercapai dan perlu diteruskan lagi ke siklus
berikutnya, revisi apa terhadap strategi yang telah digunakan untuk
diimplementasikan pada siklus berikutnya, dst.
15. Bagaimana menuliskan
kesimpulan pada laporan penelitian atau tesis PTK?
Kesimpulan penelitian adalah jawaban terhadap pertanyaan
yang diajukan dalam penelitian tersebut. Oleh karena itu kesimpulan harus
menjawab pertanyaannya. Karena pertanyaan PTK adalah How can a
strategy solve a selected problem? atau Bagaimana menyelesaikan masalah dengan sebuah strategi
tertentu?, maka jawabannya harus sebuah prosedur menyelesaikan sesuatu
yang kemudian didukung bukti bahwa masalahnya telah terpecahkan dengan strategi
tersebut. Jadi isi kesimpulan PTK tidak sama dengan kesimpulan untuk penelitian
jenis causal design atau corelational design, yang biasanya diformulasikan dalam
sebuah proposisi: karena ..... maka....(untuk causal design), atau semakin .... maka
semakin ......(untuk corelational design).
16. Apa produk Penelitian
Tindakan Kelas?
Peneliti PTK berperan
ganda, yaitu sebagai guru dan sebagai peneliti (teacher-researcher)
sekaligus. Sebagai guru, dia harus menyelesaikan masalah pembelajaran,
sebagai peneliti dia harus menghasilkan karya ilmiah, yaitu produk yang berupa
strategi pembelajaran inofatif yang telah berhasil dia gunakan untuk
menyelesaikan masalah pembelajaran tersebut, tentunya selain karya ilmiah yang
berupa laporan penelitian dan artikel ilmiah yang bisa ditulis dari laporan
penelitiannya. Jika laporan PTK hanya melaporkan keberhasilan mengatasi masalah
pembelajaran, maka laporan itu seperti laporan keberhasilan guru (teacher)
bukan laporan keberhasilan peneliti PTK, yang seharusnya berfungsi ganda
yaitu teacher-researcher.
17. Apa
signifikansi PTK?
Yang dimaksud signifikansi penelitian adalah
kebermanfaatan hasil atau produk penelitian bagi khalayak praktisi dan atau
untuk pengembangan teori. Kebermanfaatan ini bukan mengacu pada manfaat saat
dilaksanakan penelitian, tetapi mengacu pada manfaat hasil setelah penelitian
selesai dilaksanakan. Karena produk PTK adalah strategi
pembelajaran inofatif, maka siginikansi PTK mengacu kepada siapa saja yang akan
mendapat manfaat dari strategi pembelajaran yang telah berhasil dikembangkan.
Guru lain akan bisa memanfaatkan strategi tersebut bila dia memiliki masalah
sama yang bisa dipecahkan dengan strategi tersebut. Kelompok guru bisa
mendiskusikan strategi tersebut untuk menambah pengetahuan tentang satu pilihan
strategi inofatif untuk memecahkan satu masalah tertentu dalam bidang
pembelajaran. Guru matapelajaran lain (seperti guru Bahasa Indonesia, Bahasa
daerah, atau bahasa asing lainnya) yang memiliki masalah yang sama bisa juga
memanfaatkannya.
Di dalam penelitian kualitatif, pemanfaatan
hasil penelitian untuk kontek lain disebut dengan transfer.
Walaupun PTK bukan sepenuhnya kualitatif, tetapi pemanfaatan strategi inofatif
yang dihasilkan dari PTK bisa ditransfer ke kelas lain yang
memiliki masalah serupa dengan kontek penelitian yang telah dilaksanakan.
Bahkan nilai keberhasilan (significance/ contribution) PTK bisa dilihat dari
seberapa banyak guru lain yang bisa memanfaatkan strategi pembelajharan
inofatif yang telah dihasilkan; semakin banyak guru memanfaatkan strategi
tersebut, semakin tinggi nilai kontribusi PTK tersebut.
18. Apakah PTK
termasuk penelitian dengan rancangan Kuantitatif atau Kualitatif?
Penentuan rancangan penelitian kuantitatif
atau kualitatif tergantung pada jenis data yang menggambarkan variabel yang
diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitiannya. Bila data yang menjadi
indikator variabelnya bisa digambarkan/dihitung dengan angka dan oleh karena
itu untuk analisisnya bisa digunakan formula statistik, maka penelitian
tersebut menggunakan rancangan kuantitatif. Sebaliknya bila data yang
menggambarkan variabelnya tidak bisa digambarkan dengan angka, dan oleh karena
itu untuk analisisnya tidak bisa digunakan formula statistik, maka penelitian
tersebut menggunakan rancangan kualitatif.
Sebagaimana disebutkan
sebelumnya, data dalam PTK digunakan sebagai indikator pencapaian criteria
of success. Criteria of success untuk PTK ada yang
melibatkan variabel yang bisa digambarkan dengan angka (seperti prestasi hasil
belajar yang bisa digambarkan dengan skor yang berupa angka) dan ada pula yang
melibatkan variabel yang tidak bisa digambarkan dengan angka tetapi dengan
deskripsi (seperti suasana kelas, kerjasama antar peserta didik, kemandirian
belajar peserta didik).
Bila satu PTK melibatkan
beberapa variabel (ada yang indikatornya berupa angka dan ada juga yang
indikatornya berupa deskripsi) maka PTK tersebut menggunakan dua rancangan
sekaligus, yaitu rancangan kuantitatif (untuk mengumpulkan dan menganalisis
data yang berupa angka) dan rancangan kualitatif (untuk mengumpulkan dan
menganalisis data yang digambarkan dengan deskripsi). Jadi PTK bisa dimasukkan
kedalam rancangan kuantitatif sekaligus kualitatif, atau sebaliknya PTK tidak
bisa dimasukkan ke dalam rancangan kuantitatif (karena melibatkan data yang
tidak bisa dianalisis dengan statistik), atau tidak bisa dimasukkan ke dalam
rancangan kualitatif (karena melibatkan data yang analisisnya harus menggunakan
formula statistk). Untuk itu yang paling bagus adalah tidak usah berfikir
memasukkan PTK ke dalam rancangan kuantitatif atau rancangan kualitatif,
sebutkan saja PTK memiliki ciri khas yang berbeda dari jenis penelitian
lainnya, yaitu menggunakan rancangan penelitian sesuai dengan keperluannya.
19. Di mana
disajikan pembahasan tentang data, instrumen pengumpulan data, pengumpulan
data, dan analisis data?
Organisasi penyajian
laporan PTK banyak berbeda dari laporan penelitain jenis lainnya. Setiap siklus
PTK melibatkan empat tahapan (planning, implementing, observing, dan reflecting)
yang masing-masing memiliki pengertian khusus. Planning adalah
tahapan menyiapkan strategi yang akan dikembangkan, dengan
seluruh media dan materi pembelajarannya. Implementing merupakan
tahap pelaksanaan strategi yang telah dipersiapkan Observing adalah
tahapan pengumpulan data yang menjadi indikator pencapaian criteria of
success, baik yang menggunakan test, angket, wawancara, atau
pengamatan. Reflectingadalah tahapan anlisis data untuk menentukan
apakah criteria of success sudah tercapai atau belum.
Dengan demikian,
pembahasan tentang data, instrumen pengumpulan data, dan teknik pengumpulan
data tidak berdiri dalam satu sub-heading tersendiri, tetapi
termasuk dalam tahapan observing. Demikian juga pembahasan
tentang analisis data tidak dilakukan dalam satu sub-heading tersendiri,
melainkan termasuk dalam tahapan reflecting. Penyajian sub-heading tentang
data, instrumen pengumpulan data, dan teknik pengumpulan data terpisah dari
tahapan observing menunjukkan ketidak fahaman oleh yang
bersangkutan terhadap makna observing. Bahkan dalam sebuah ujian
tesis yang berdasarkan PTK, penah mahasiswa yang membuat sub-heading pengumpulan
data secara terpisah diberi pertanyaan oleh penguji, kegiatan mana yang lebih
dulu dikerjakan observing atau pengumpulan data, mahasiswa
tersebut kebingungan menjawabnya.
Penelitian Tindakan Kelas
Pembelajaran Bahasa Inggris
Oleh
Mohammad Adnan Latief
Abstract: Research in English
learning is a scientific activity that aims at investigating the rules that
work in the process of English learning. Research activities in English
learning cover four steps: observing, describing, analyzing, and explaining.
The way each step is done depends on the nature of the data and the objective
of the research. Classroom Action Research (CAR) for English Learning
aims at developing a certain instructional strategy to solve practical instructional
problems in English classrooms. Each English learner is basically able to learn
English provided that he or she is given the appropriate help as each learner
has his or her own style and strategy of learning. CAR for English
Learning aims at discovering learning-teaching strategies that match learners'
style and strategies in learning English. CAR is done in several cyles
each of which is repeated in the following cycle if the result is not
satisfactory yet with the better revised lesson plan. Each cycle begins
with lesson planning, implementing the plan, observing the implementation, and
reflecing or evaluating the process and the result of the implementation. The
result of the reflection determines the following cycle.
Key words: planning,
implementing, observing, and reflecting
Penelitian Pembelajaran Bahasa Inggris (PBI)
adalah kegiatan akademis ilmiah yang berupa penyelidikan atau investigasi
terhadap satu proses PBI dengan tujuan untuk bisa memahami proses PBI. Memahamisatu
proses PBI berarti bisa menjelaskan tentang sistem, aturan, pola,
keteraturan, rumus, kaidah PBI. (Marshall & Rossman, 1995:16). Setiap
peneliti yang sedang meneliti PBI berasumsi bahwa PBI
mengikuti satu sistem, aturan, pola, keteraturan, rumus, atau kiat yang sudah
pasti dan atas dasar kiat itulah PBI bisa berhasil. Kiat itulah yang dicoba
untuk diungkap oleh peneliti.
Kegiatan penelitian PBI berbeda dengan
kegiatan wartawan yang mengamati kelas PBI yang tugasnya hanya merekam
informasi faktual dari PBI tersebut dalam bentuk deskripsi yang siap menjadi
berita untuk disajikan kepada pembaca (Bogdan & Biklen, 1998: 37).
Peneliti, setelah mengamati dan merekam hasil pengamatannya, melakukan analisis
terhadap hasil pengamatannya (data penelitian) dengan menggunakan paradigma
keilmuan PBI yang dimilikinya sampai akhirnya bisa menerangkan kiat yang ada
pada PBI yang sedang ditelitinya.
Peneliti PBI merupakan kelompok terdepan dalam
proses mata rantai pengembangan pengetahuan PBI karena merekalah yang menggali
dan menemukan pengetahuan langsung dari kelas PBI. Temuan para peneliti
PBI ini dikumpulkan untuk diklasifikasi dan direkam dalam tulisan dalam bentuk
buku atau jurnal yang siap dibaca oleh orang lain. Kelompok kedua (pengumpul
hasil-hasil penelitian) ini mengklasifikasi semua temuan penelitian PBI yang
berupa aturan-aturan tentang PBI dalam satu body of knowledge.
Kelompok ketiga yang terlibat dalam proses
mata rantai pengembangan PBI ialah para pembaca; yaitu mahasiswa jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris dan para dosen PBI. Kelompok pembaca ini
membaca informasi yang ada dalam buku, mendiskusikan di kelas, dalam seminar,
lokakarya, dsb.
Artikel ini menjelaskan (1) proses kegiatan
PBI secara umum yang meliputi pengamatan, pendeskripsian, analisis, dan
penjelasan, (2) pendekatan penelitian PBI yang menjelaskan secara umum
perbedaan penelitian dengan data kuantitatif dan penelitian dengan data
kualitatif, (3) penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa siklus
berulang yang tiap siklusnya meliputi tahapan perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Artikel ini juga menjelaskan (4) perbedaan
antara penelitian tindakan kelas dengan penelitian eksperimental dalam proses
PBI. Juga ditekankan dalam artikel ini penjelasan tentang (5)
istilah kunci dalam tiap siklus PTK yang memiliki arti khusus dalam PTK,
yaitu: perencanaan yang berisi masalah yang akan dipecahkan
dan strategi yang akan dikembangkan, pengamatan yang berisi
proses pengumpulan data yang bisa berupa kegiatan wawancara, angket, pengamatan,
tes, dan sebagainya, dan refleksi yang berisi analisis data
dan evaluasi hasil analisis data untuk melihat perlu tidaknya dilakukan siklus
lanjutan, dan bila perlu dilakukan siklus lanjutan, bagian mana dari strategi
atau teknik pembelajaran yang sedang dikembasngkan itu perlu diperbaiki.
KEGIATAN PENELITIAN PBI
Kegiatan penelitian PBI pada dasarnya meliputi
4 tahap, yaitu (1) pengamatan, (2) pendeskripsian, (3) analisis, dan (4)
penjelasan. Tahap pengamatan adalah tahap pengumpulan data yang bisa dilakukan
dalam berbagai bentuk sesuai dengan sifat data yang diamati, antara lain
wawancara, pengisian angket, pengamatan, tes, identifikasi, dsb. Tujuan
pengamatan ialah untuk mengumpulkan data yang meliputi indikator /tanda -tanda
yang bisa membantu peneliti memamahi PBI yang diteliti.
Apabila yang diteliti adalah prestasi
siswa dalam belajar Bahasa Inggris di sekolah dalam kaitannya
dengan jenis kelamin siswa, misalnya, maka yang diamati
dari siswa (objek penelitian) adalah (variabel) jenis kelamin siswa dan
prestasi belajar Bahasa Inggris siswa yang menjadi objek penelitian
tersebut. Untuk mengamati (variabel) jenis kelamin siswa
maka pengamatan bisa dilakukan dengan melihat indikator jenis kelamin, seperti
cara berpakaian, hiasan yang dipakai, kumis, bentuk leher, bentuk dada, suara,
cara berjalan, dsb. Dengan melihat indikator tersebut peneliti bisa
mengelompokkan siswa putra dan mengelompokkan siswa putri. Untuk
mengamati prestasi hasil belajar Bahasa Inggris, peneliti bisa melihat catatan perkembangan
belajar siswa yang dimiliki oleh guru atau peneliti bisa memberikan tes Bahasa
Inggris. Dari catatan guru atau dari hasil tes tersebut, peneliti bisa
menemukan prestasi belajar siswa, dari siswa yang berprestasi rendah sampai
yang berprestasi tinggi.
Tahap pendeskripsian berisi kegiatan perekaman
hasil pengamatan (pengumpulan data). Dalam contoh penelitian tentang
hubungan prestasi belajar Bahasa Inggris siswa SLTP dengan jenis
kelamin mereka, yang perlu direkam adalah daftar kelompok siswa putra,
daftar siswa kelompok putri, dan daftar nilai Bahasa Inggris seluruh
siswa yang menjadi objek penelitian tersebut.
Tahap berikutnya adalah kegiatan analisis
data. Pada tahap ini hasil deskripsi (yang menjadi data) dianalisis
dengan teknik tertentu sesuai dengan sifat data dan tujuan penelitian.
Pada contoh penelitian tentang hubungan prestasi belajar Bahasa Inggris
siswa dengan jenis kelamin, analisis bisa dilakukan dengan formula Statistics untuk
membandingkan nilai rerata hasil belajar kelompok siswa putra dan nilai
rerata kelompok siswa putri.
Tahap terakhir adalah penjelasan, pemahaman,
atau penarikan kesimpulan. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan
peneliti adalah memberi makna atau menginterpretasi hasil analisis.
Dalam contoh penelitian tentang hubungan prestasi belajar Bahasa
Inggris siswa SLTP dengan jenis kelamin, apabila hasil analisis menunjukkan
bahwa rerata nilai Bahasa Inggris siswa putri jauh lebih tinggi (perbedaan
mencolok) daripada rerata nilai Bahasa Inggris siswa putra, misalnya, maka
peneliti menyimpulkan (memberi makna, menjelaskan) bahwa jenis kelamin
berpengaruh pada prestasi belajar Bahasa Inggris siswa, yaitu siswa putri
cenderung berprestasi lebih baik dalam belajar Bahasa Ingris dibanding siswa
putra..
PENDEKATAN PENELITIAN PBI
Bagaimana proses penelitian (observasi,
deskripsi, analisis, explanasi) dilakukan tergantung sifat data dan
tujuan penelitian. Kegiatan penelitian yang bertujuan untuk memahami
pola, sistem, aturan, atau hubungan antar variabel yang ada pada objek
penelitian, dengan data yang bersifat kuantitatif, seperti pada contoh (
hubungan antara prestasi belajar Bahasa Inggris siswa SLTP dengan jenis
kelamin) di atas, bisa dilakukan dalam satu kali putaran
/ siklus ( mengobsevasi, mendeskripsikan, menganalisis, dan akhirnya
menyimpulkan).
Dalam penelitian qualitative, (penelitian yang
datanya tidak direpresentasikan dengan angka atau tidak dikuantifikasi, seperti
penelitian tentang perkembangan pola kalimat Bahasa Inggris siswa SLTP dari
kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga, dalam mengarang, misalnya) kegitan
penelitian tidak dihasilkan dari satu kali kegiatan pengumpulan data, satu kali
kegiatan analisis data, dan kemudian disimpulkan. Kegiatan observasi,
deskripsi, analisis, dan eksplanasi dilakukan berulang-ulang, sehingga
kesimpulan yang diambil merupakan hasil bertahap dari yang sementara
sampai ke hasil akhir dari beberapa kali kegiatan pengumpulan
data, dan analisis data.yang berlangsung secara circulair.
Kegiatan pengumpulan data (tahap I) langsung diikuti kegiatan analisis data
(tahap I) yang menghasilkan simpulan sementara (hypothesisI). Hypothesis I
adalah simpulan sementara yang perlu dikonfirmasi dengan melakukan kegiatan
pengumpulan data lagi (tahap II), dan analisis data (tahap II), sehingga
menghasilkan hypopthesis II. yang memperkuat (memverifikasi,
menambah, atau bahkan menolak) hypothesis I. Apabila dari
dua hypothesis tersebut kesimpulan belum bisa diambil secara
meyakinkan, maka kegiatan pengumpulan data dan analisis data pada tahap
III perlu dilakukan lagi. Demikian seterusnya sampai dihasilkan temuan yang
bisa diyakini kebenarannya. Pada saat itulah hypothesis (setelah
mengalami revisi beberapa kali melalui beberapa siklus) menjadi temuan
penelitian.
Penelitian yang bertujuan untuk menemukan
cara, strategi, atau prosedur yang tepat untuk memecahkan suatu masalah
pembelajaran bahasa perlu juga dilakukan dalam beberapa siklus. Setiap siklus
diikuti siklus berikutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sesuai dengan
criteria (hasil) yang diinginkan. Kegiatan penelitian seperti ini disebut
Penelitian Tindakan Kelas.
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(PTK)
Penelitian Tindakan Kelas merupakan media
untuk peningkatan kemampuan professional guru dan untuk peningkatan
keberhasilan belajar siswa. Dalam PTK, guru melakukan evaluasi terhadap
kegiatan mengajarnya dan kemudian melakukan perbaikan atas dasar hasil evaluasi
tersebut. Seringkali perubahan strategi pembelajaran yang ditemukan oleh
guru lebih mudah menyebar kepada guru-guru lain (bottom up) dibanding dengan
perubahan yang ditawarkan oleh atasan (top down). Kegiatan PTK dimulai dari
kebiasaan guru untuk peduli terhadap keberhasilan kegiatan mengajarnya, atau
peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan belajar
siswanya, perilaku, interaksi sosial, kesulitan belajar, dan lingkungan
belajar para siswanya yang kemudian dia evaluasi untuk pertimbangan dalam
menyusun perencanaan tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, dan
evaluasi tindakan perbaikan (Borgia, Schuler, 2003).
Penelitian tindakan kelas Pembelajaran Bahasa
Inggris (PBI) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan (berusaha
menemukan) strategi atau teknik PBI yang bisa membantu siswa secara tepat
sehingga siswa bisa menguasai Bahasa Inggris. Setiap siswa di
kelas pada dasarnya bisa menguasai Bahasa Inggris (tidak ada
satupun siswa yang tidak bisa menguasai Bahasa Inggris di kelas) asal
mendapat bimbingan dengan strategi atau teknik yang tepat.
Ketidak berhasilan siswa dalam mempelajari Bahasa Inggris adalah kegagalan guru
dalam memberikan bimbingan belajar Bahasa Inggris secara tepat dan
optimal. Ketidak berhasilan siswa dalam mempelajari Bahasa Inggris yang
disebabkan oleh tidak tepatnya dan tidak optimalnya bimbingan yang diberikan
guru itulah yang menjadi masalah praktis bagi guru dalam tugasnya mengajar
Bahasa Inggris di kelas. Setiap guru Bahasa Inggris selalu memiliki masalah
pembelajaran semacam ini. Dan setiap guru Bahasa Inggris tentu harus
selalu berupaya memecahkan masalah yang dihadapinya. Pemecahan masalah
pembelajaran Bahasa Inggris adalah bagian dari tugas profesi setiap guru Bahasa
Inggris. Upaya pemecahan masalah ini bisa dilakukan dengan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK).
Dengan demikian PTK adalah bagian tak
terpisahkan dari kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris di kelas. Dengan kegiatan
PTK, guru Bahasa Inggris berusaha memecahkan masalah-masalah praktis dalam
proses pembelajaran Bahasa Inggris yang dihadapi dengan mengembangkan strategi
atau teknik tertentu. Masalah-masalah praktis tersebut antara lain:
Bagaimana meningkatkan keberanian siswa dalam berbicara Bahasa Inggris di kelas
dengan teknik pembelajaran dengan media gambar? Bagaimana cara
memperlancar proses pembelajaran menulis siswa dengan strategi Wisata?
Bagaimana cara menggunakan guessing games untuk membuat siswa lebih aktif dalam
belajar berbicara Bahasa Inggris? Bagaimana meningkatkan motivasi belajar
membaca siswa dengan menggunakan teknik pemberian hadiah?, dan sebagainya.
Disari dari :
Adnan Latief Mohammad. 2009. Penelitian Tindakan Kelas; Yogyakarta. UGM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar